Have you ever felt bored with the classic Lorem Ipsum? We've got you covered! Here, use it, translate it, have fun with it!

Sebuah Mentari yang paras eloknya tersohor pun akan melalui waktu yang hampa akan suka. Sempurna dan paripurna hanya tipu muslihat yang datang penuh dusta dari kalangan khazanah Penguasa. Sebab kemarau yang panas dan membawa hama selalu bergeser terganti oleh hujan yang maha membawa berkah. Namun panas dan basah pun punya bagian-bagian yang ramah juga jahat bagaikan pejabat. Sebaiknya Manusia ialah yang paling mahir bergulat dengan kontrasnya Bumi. Dan Pemimpin yang baik ialah pemimpin yang senantiasa mengimbangi kontras Bumi dengan penuh tujuan, tujuan yang mengedepankan Alam dan Manusia
Sebagai tamu Ibu Pertiwi, kita mesti hafal seluk beluk lika liku hukum alam. Berbuat jahatlah jika ingin berdiri di atas duri, namun kebajikan niscaya melunakkan duri dan melembutkan tanah di bawah kakimu serta yang akan dipijak. Pepohonan, tumbuhan, dan binatang hadir sebagai kawan Ibu Pertiwi yang bernafas dengan gagah untuk menemaninya dalam misi menjadi sang Nyonya Rumah yang maha baik. Tapi, kerap kali kita mengundang malapetaka dan amarahnya dengan cara menyerang kawan-kawannya. Banjir dan Api pun datang untuk melahap kita semua, walau belum pasti memegang salah, dengan penuh bara dendam, mencoba untuk meraih kembali kesucian Ibu Pertiwi yang telah hina oleh noda.
Itulah sebabnya kita harus senantiasa menggenggam tanah dan meneguk air dengan penuh kasih dan empati. Untuk diri sendiri, yang tersayang, atau pun yang tak dikenal, kasih dan empati menjadi benteng yang menahan nafsu serta jahat yang bersarang pada lubuk hati manusia. Walau semestinya, nafsu yang bertengger gigih dalam jiwa dapat berubah menjadi suatu angan maha keji. Pergulatan antara empati dan nafsu keji merupakan pertarungan yang kita semua lalui sebagai bentuk perlindungan Ibu Pertiwi. Karena hancur leburnya Bumi adalah hasil keringat dan jerih payah manusia keji.
Writing by Tyo Sastrohutomo


