Konon, bila ide yang disemai sudah harus ditanam, intuisi ini mengatakan “Segera Tanam!”.
Katanya lagi, kalau dagang harus jujur. Di negeri pertiwi yang indah ini, banyak manipulasi yang dilakukan oleh para korporasi dan rezim. Bila ingin sukses dalam sistem, kau harus menjilat pantat para penguasa.
Maka, mempunyai idealisme adalah privilege tersendiri. Kami diberkati oleh klien dan patron yang percaya pada ‘cara’ kami bekerja. Tak ada marketing; tak ada template, tak ada formula; hampir tak ada revisi; hampir semua cara kami bekerja adalah 80% organik serta bermodal keyakinan.
Di Projek AGNI banyak prinsip dan idealisme yang kami pegang dan banyak juga yang mencoba menggoyangkannya. Namun, kami memilih untuk tetap teguh dengan idealisme ini karena kami percaya bahwa di dunia yang serba cepat, akses teknologi dan kecerdasan buatan sangat mudah didapat. Kesadaran dan ‘kelambatan’ kita sebagai manusia dalam proses adalah hal yang kami anggap alamiah dan berharga.
Kendati demikian, idealisme ini bukan tanpa cobaan. Implikasi dari cara kami berbisnis di Projek AGNI adalah, jujur, kami tidak mengambil klien terlalu banyak, dari segi kuantitas. Banyak calon klien yang akhirnya tidak berjodoh dengan kami karena kami terlalu pilih-pilih, terlalu mahal, mungkin terlalu banyak “ngatur”, atau ga jelas S.O.P.-nya. Tapi cek aja semua testimoni di Google Maps kami yang berada di antah berantah.
Belum lagi industri yang kami pilih untuk tidak kami ambil, contohnya: FMCG (They mostly poisoned our future generations), industri ekstraktif, serta tender-tender shady dari “you know who”. Otomatis, keberlanjutan bisnis perlu kita fikirkan dan rasakan kembali gimana solusinya, right?
So, setelah 8 tahun menyediakan jasa untuk para patron partikelir, dalam perjalanan kami di AGNI, banyak sekali eksplorasi berupa aset grafis yang entah itu ga dipake atau ga cocok sama klien. Mereka terdiam, terpaku dalam folder biner. Maka kini saatnya para aset digital itu bebas, lepas, dan dapat dinikmati oleh khalayak seluas-luasnya.
We’re done doing gate-keeping in our process.
Thus, OBJEK AGNI kini kami bangun kembali dan kami ubah yang sebelumnya berupa Merchandise fisik menjadi semacam “Toko Produk Digital” yang kami sebut “Digital Artefacts”. Tentu ini adalah percobaan side hustle, eksperimenlah.
Lalu, bagaimana praktik bisnisnya? Allow us to explain:
- Cara bisnis yang akan kami coba di Objek AGNI, adalah menerapkan sistem semi koperasi. Yaitu, profit sharing (setelah dipotong biaya platform) akan kami salurkan sebanyak 50-60% untuk royalti kreator, 30% untuk Objek AGNI dan 15% untuk Pemasaran, serta 5% untuk donasi krisis alam oleh manusia atau Social Repressive issues.
- Lalu, yang mengasyikkan untuk Pembeli (kami sebut Seeker/Pencari) adalah kami mencoba menerapkan sistem PAY AS YOU WISH atau BBS (Bayar Suka-Suka!)*. Yes bener, terserah lu mau kasih Value berapa.
- Oh iya, kami juga ingin para Seeker (ciaelah:)) Semua tahu, semua lisensi barang digital di OBJEK AGNI sederhana aja—you get it, you own it, that’s it. Hidup kita kadang udah banyak urusan. Let’s simplify our lives more, shall we?
Akhir kata, semoga langkah kecil ini membantu teman-teman kreator independen di Indonesia untuk dapat berekspresi dan berkreasi melalui aset digital kultural yang terjangkau untuk Dunia. Dan ketika kita sudah tidak khawatir mengenai uang, akhirnya kita bisa berkarya lebih jujur dan MERDEKA lagi! That's the future we want to put hope in.
Sekarang kami coba mulai dulu dengan sangat sederhana.
Kun Fayakun, yang akan terjadi, pasti terjadi.
Let’s support each other in this economy!
OBJEK AGNI - Accessible Digital Artefacts.
#ARTEFAKINI
#NeoIndonesiana
*Harga Pay As You Wish / Bayar Suka-Suka adalah program awal dalam Teaser / Trial Launch, mungkin emang bakal kayak gitu, mungkin nanti enggak. Let's see!





